BARU MENULIS LAGI

Gambar

Jika kubuka blogku rasa ingin menulis kembali mencuat…namun terkadang akan kutulis apa? Aku tak mau tulisanku tak tentu arah, kuingin tulisanku membawa manfaat bagi sesama…….

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Mengemas Laba Bisnis Kemasan

Jakarta – Kemasan sangat menentukan keberhasilan sebuah produk mampu menembus pasar. Namun biasanya tidak mudah untuk menciptakan kemasan dan produk yang mampu diterima pasar. Masalah seperti ini seringkali dihadapi oleh para pengusaha usaha kecil dan menengah (UKM).

Melihat peluang ini, Maria Magdalena pun memulai usahanya sebagai pengusaha makanan. Pada tahun 2008 lalu ia mencoba melakukan terobosan dengan membuat kemasan-kemasan unik bagi produk-produk makanannya, hasilnya kemasannya banyak dilirik orang.

“Sejak Januari 2008 lalu saya sering membantu UKM, dalam menembus pasar moderen. Lalu banyak yang bilang packaging produk saya bagus. Banyak usah kecil, yang bertanya,” kata Maria kepada detikFinance, akhir pekan lalu.

Semenjak itu lah ia bersama suaminya bertekad untuk mengembangkan usaha produksi kemasan skala kecil untuk memenuhi permintaan UKM. Setidaknya ia memulai dengan merogoh modal Rp 12 juta untuk membeli 3 mesin pembuat kemasan.

Dikatakannya selama ini UKM kesulitan mendapat kemasan bagus dengan jumlah kecil, maklum saja para pabrikan kemasan hanya melayani pembuatan kemasan partai besar.

Walhasil, saat ini permintaan produk kemasannya mulai menyebar di seluruh Indonesia, selain sebagai mitra binaannya para UKM tersebut juga umumnya bergerak bidang produk makanan telah menjadi pelanggan setianya.

Beberapa produk yang ia hasilkan seperti stand-up pouch, alumunium foil, paper bag, plastic vakum, packaging machine, label dan lain-lain.

Ia mengatakan saat ini para UKM di Indonesia sering kali mengalami kendala dalam hal kemasan. Berdasarkan pengalamannya, banyak UKM terjebak dengan pemikiran bahwa produk UKM tidak harus bagus kemasannya sedangkan kemasan bagus hanya menjadi milik industri besar.

“Mereka UKM mikirnya pabrikan saja yang kemasannya bagus. Ternyata home industry  juga bisa bagus, ini bisa  menambah nilai jual loh,” katanya.

Selain itu, kata dia, masih ada paradigma di pengusaha, UKM jika kemasan yang bagus akan menambah beban produksi, padahal kata dia saat ini kemasan sangat menentukan keberhasilan sebuah produk di pasar. Ia mencontohkan produk-produk impor terlihat sebagai barang mahal dan bagus, hanya gara-gara dikemas secara rapih dan moderen.

Ia menjelaskan komposisi biaya produksi dari kemasan setidaknya hingga 30% masih dianggap wajar dan layak dipertimbangkan. Saat ini, ia biasa menjual harga kemasan termurah untuk ukuran sachet antara Rp 250 -1600 per sachet. Sedangkan untuk produk kemasan termahal adalah jenis komposit yang dijual  Rp 8000 per kemasan.

Ia menjual ukuran sachet minimal dengan jumlah pemesanan 20.000 lembar, sedangkan untuk pemesanan di pabrik kemasan skala besar biasanya meminta pemesanan minimal diatas Rp 200 juta, selain itu ia berani jamin produk kemasannya lebih murah dari  harga pabrik besar.

“Bisa selisihnya sampai Rp 200 per sachet, lebih murah dari pabrik besar, ini sangat membantu UKM yang membutuhkan kemasan dengan jumlah pembelian dengan partai kecil,” katanya.

Bagi UKM yang telah memiliki kemampuan produksi tinggi ia menyarankan proses penutupan (perekat) kemasan harus menggunakan mesin otomatis dengan harga Rp 4,8 juta per  buah. Bagi UKM yang produksinya masih rendah ia menyarankan untuk menggunakan penutup kemasan manual seharga Rp 350.000. Beberapa alat-alat tersebut ia juga sediakan bagi mitra-mitranya untuk dijual.

Ia mengaku saat ini sering mendapat undangan dari departemen perdagangan maupun departemen perindustrian untuk memberikan penyuluhan terhadap UKM-UKM yang mengalami kendala dalam kemasan, termasuk konsultasi izin usaha, konsultasi membuat kemasan, membuat bar code, izin sertifikasi halal, standar produk makanan internasional dan lain-lain.

Hasilnya sampai saat ini bisnisnya semakin moncer. Dengan dibantu 25 orang karyawannya, setiap bulannya ia mampu membukukan omset hingga ratusan juta per bulan dengan menjual kemasan-kemasan seperti produk makanan, minuman, obat-obatan, kosmetik, produk kaleng dan lain-lain.

Anda tertarik?

CV. D&D Pack Indonesia

Maria Magdalena

Perumahan Cengkareng Indah Blok GD No 17 Jakarta Barat 11720.
email : marketingdnd@yahoo.co.id

sumber : http://www.detikfinance.com

http://www.kemasanukm.com/news/5/Mengemas-Laba-Bisnis-Kemasan

Dipublikasi di Artikel | Tag , , | Tinggalkan komentar

Kemasan yang Unik dan Kreatif Gandakan Keuntungan

KENDALA terbesar dalam memasarkan sebuah produk adalah kemasan. Hal ini kurang disadari oleh sebagian besar pelaku usaha kecil di Indonesia. Umumnya mereka tidak sadar atau kurang memahami bahwa kemasan yang baik dan menarik akan mendatangkan nilai lebih pada produk yang dijual.

“Umumnya pengusahan kecil kita masih berpikir tradisional yang hanya mengandalkan pada produk yang dijual, sementara pembungkusnya biasa saja (plastik biasa).

Mereka tidak sadar bahwa nilai produk mereka dapat bertambah berlipat-lipat jika membalutnya dengan kemasan yang menarik,” ungkap Delli Gunarsa, pengusaha kemasan, saat berbincang dengan Koran Tokoh.
Di luar negeri tren kemasan kreatif bukan hal yang baru lagi. Produk makanan bahkan kerajinan pun dibungkus dengan kemasan menarik, yang eye catching. Tak dapat disangkal, konsumen umumnya akan tertarik dengan produk-produk yang dibungkus dengan cantik. “Ini perilaku umum konsumen, hal pertama yang membuat mereka tertarik membeli suatu barang adalah kemasan barang tersebut,” tambahnya.

Perilaku konsumen ini sangat disadari oleh pelaku usaha di luar negeri, entah itu pengusaha kecil ataupun besar. Karenanya model-model kemasan cantik dan kreatif banyak bermunculan. Mereka berlomba-lomba membuat kemasan sekreatif mungkin.

“Padahal kalau dilihat isinya, ya itu-itu saja, kadang tidak istimewa. Coklat-coklat di luar negeri misalnya, dikemas dengan cantik yang menggoda konsumen untuk membeli, padahal isinya biasa saja. Di Indonesia, kita punya banyak sekali produk berkualitas yang dihasilkan oleh industri kecil, apakah itu makanan, kerajinan, atau komoditi lain, namun karena kemasannya tradisional atau biasa-biasa saja, menjadi kurang menarik.Buntutnya, produk menjadi sulit bersaing,” papar Delli yang kerap menjadi narasumber seminar yang membahas pentingnya kemasan sebuah produk.

Mengubah mindset pelaku usaha kecil akan pentingnya kemasan kreatif, menurut Delli, tidaklah mudah. Betapa sulitnya meyakinkan mereka bahwa kemasan yang baik dan kreatif bisa menggandakan keuntungan mereka.
“Saya telah diundang ke berbagai daerah di seluruh Indonesia hanya untuk berbicara tentang kemasan. Saya merasakan betul betapa ketidakmengertian mereka tentang kemasan, khususnya para pelaku usaha kecil. Kepada mereka tidak bisa saya ngomong, “Saudara-saudara kemasan produk sangat penting..bla..bla..”.

Mereka tidak akan paham. Tapi kalau saya beri contoh-contoh, termasuk hitung-hitungan keuntungan yang didapat dengan kemasan kreatif, dibanding dengan pembungkus biasa, barulah mereka mengerti. Tapi, kan, yang memahami hanya yang ikut seminar, sementara begitu banyak pelaku usaha kecil di Indonesia ini, tidak ikut seminar. Jadi edukasi soal kemasan untuk meningkatkan daya jual, daya saing, memang harus terus menerus diberikan,” lanjut Delli yang juga Direktur D&D Pack Indonesia.

Awal Bisnis Kemasan Delli sendiri menyadari pentingnya kemasan produk setelah bergelut dengan berbagai jenis usaha. Awalnya, Delli yang sarjana akutansi Universitas Tarumanegara, bekerja sebagai manajer sebuah swalayan, lalu pindah ke perusahaan keluarganya yang bergerak di bidang pembuatan saos. Setelah merasa memiliki modal cukup, Delli dan istrinya, memutuskan untuk memulai usaha sendiri. “Saya masih tahap mencari-cari usaha yang tepat. Saya mulai dari usaha konveksi, kemudian 2005 lalu pindah ke usaha makanan kering oleh-oleh dari berbagai daerah,” jelasnya.

Meski usahanya itu berkembang baik, namun ia merasa ada kurang. Persaingan di bidang penjualan produk makanan sangat ketat, jika tidak membuat nilai lebih pada produknya, tentu sangat sulit bersaing.”Lalu bagaimana caranya bagar bisa meningkatkan nilai penjualan produk, itu yang selalu saya pikirkan,” katanya.

Untuk itu ia tekun mengamati tren pasar, sembari mencari ide-ide inovatif. Dari hasil pengamatannya ia mendapati bahwa kemasan ternyata berpengaruh penting untuk meningkatkan value produk, selain produk itu sendiri.Yang jadi persoalan, ujar Delli, pemesanan kemasan di pabrik besar tidak bisa diecer. “Kalau ke pabrik besar, minimal harus memesan 100 ribu pieces, untuk pelaku usaha kecil seperti kami, tentu tidak mungkin. Pabrik besar tidak melayani pembelian kemasan hanya 100-200 pieces,” jelasnya.

Dari sana, tuturnya, muncul ide kenapa tidak membuat kemasan sendiri. “Saya lalu mencari informasi seputar kemasan termasuk mesin pembuatannya. Tentu saja nmesin ukuran kecil sesuai kebutuhan,” katanya. Sejak itu, semua produk makanannya dikemas dengan baik. Bukan sekadar dikemas, tapi juga memperhatikan aturan pelebelan dan barcode yang ditetapkan pemerintah.

Setelah semuanya dibenahi, maka bukan hanya value yang meningkat, tapi peluang untuk mendapat pasar lebih luas pun terbuka lebar. “Kalau sebelumnya produk saya hanya masuk sampai ke toko-toko biasa, tapi setelah semuanya dibenahi, produk saya bisa masuk ke toserba-toserba besar,” paparnya.

Dalam perkembangannya, kemasan produknya ternyata menarik minat pelaku usaha kecil lainnya. Mereka bertanya soal kemasan tersebut, dan membelinya beberapa ratus pieces untuk contoh. Setelah membuktikan manfaatnya, mereka pun menjadi pelanggan Delli dalam membeli kemasan. Bukan hanya itu, sebagian dari mereka malah meminta agar kemasannya dibuat sekreatif mungkin.

Disinilah awal perkembangan usaha kemasan Delli. Jadi dia bukan hanya menyediakan material plastik saja, tapi juga material jenis lain, seperti karton, dll. Bentuknya pun dikreasikan macam-macam. “Saya merekrut tenaga desain grafis, dan tenaga pendukung lain. Sungguh tak menyangka, kalau ternyata usaha ini bisa berkembang ke berbagai usaha lain, termasuk jasa konsultasi pembuatan produk dan kemasannya, hingga penjualan mesin,” tambahnya.
Permintaan membludak membuat Delli kewalahan. “Mereka datang karena saya melayani usaha kecil dan saya melayani bukan hanya pembuatan kemasan saja, tapi semua yang berkaitan dengan produk, termasuk membantu penghitungan nilai jual produk. Jadi lumayan lengkap. Tidak banyak, bahkan bisa dihitung jari, orang yang mengambil jenis usaha seperti saya. Sedang perusahaan besar atau pabrikan, juga melakukan seperti saya tapi untuk partai besar. ,” jelas Delli.

Dalam dua tahun, usaha tersebut maju pesat. Meski usaha makanan tetap berjalan, justru bisnis packaging kini menjadi bisnis utama.
“Bisnis kemasan ini sangat  potensial dan menjanjikan. Membutuhkan konsentrasi penuh,” ujarnya.

Pasar bisnis ini terbuka luas karena tidak banyak pemainnya. Inilah yang membuat bisnis ini melajut dengan cepat. “Begitu banyak unit-unit usaha kecil yang bisa digarap. Karenanya saya tidak takut kalau banyak orang mengikuti jejak saya, karena sampai sekarang pun peluang dan pasarnya terbuka lebar,” kata Delli yang rajin surfing di internet mencari model-model kemasan luar negeri yang tengah popular. “Kalau teman saya ke luar negeri, saya hanya minta oleh-oleh kemasannya saja, isinya tidak usah..ha..ha”,ungkap Delli.

Ia memulai usaha kemasan tersebut dengan modal yang relatif tidak besar. Hanya sekitar Rp 25 juta. Mesinnya sendiri hanya berharga Rp 4 juta-an, sedang material plastik untuk kemasan ia membeli ½ ton Rp 20 juta. Dalam waktu singkat, modalnya kembali. “Tapi semua keuntungan itu saya tanamkan kembali untuk mengembangkan usaha. Sekarang setelah dua tahun, asetnya telah berlipat-lipat , ” tuturnya sembari menambahkan kunci dari usaha tersebut adalah, ketekunan, keuletan dan kreativitas.

Usahanya bisa melejit dengan cepat karena banyak sekali usaha kecil di Indonesia yang tak tahu harus kemana jika ingin membuat kemasan menarik. Permasalahan mereka soal kemasan adalah, tidak adanya unit usaha yang melayani pembelian partai kecil. Peluang itulah yang dimasuki Delli. Tren ke depan, ia melihat kemasan menjadi salah satu unggulan dalam menjual produk. Lihat saja minyak goreng, sekarang kemasan refillnya modelnya macam-macam, begitu juga kemasan sabun cair, shampoo, dll. Bahkan penjualan produk gula pun kini kemasannya dibuat model tutup botol. Semua menjual daya tarik kemasan, padahal isinya tidak jauh berbeda. Demikian juga makanan dan komoditi lainnya.

Pedagang di luar negeri telah lama memulainya, di Indonesia belum terlihat menonjol. Di Indonesia baru sebatas produsen-produsen besar. Jadi para usaha kecil memang sudah saatnya berubah jika ingin meningkatkan nilai jual serta bersaing di pasar lebih luas. Menurut Delli harga mesinnya pun relatif tidak mahal, yang termahal harga Rp 10 juta. Tapi itupun untuk usaha yang sudah lumayan dengan produksi yang ribuan pieces. Tapi kalau masih puluhan atau ratusan, cukup dengan mesin handsealer harga Rp 250 sampai 300.000-an yakni mesin penutup kemasan.

Kalau sudah maju dengan produksi ribuan, mungkin, bisa membeli mesin dengan harga Rp 4-5 jutaan untuk packaging.

“Bisnis ini kelihatannya mudah, tapi merangkainya membutuhkan talenta sendiri,” kata Delli yang juga menjadi dealer mesin dari Cina. Kini yang datang kepadanya bukan hanya pengusaha-pengusaha yang ingin dibuatkan kemasan, tapi juga orang-orang kantoran yang ingin membuat kemasan souvenir, juga mereka yang ingin berkonsultasi seputar usahanya. —dia/cybertokoh.com

Sumber dari http://www.kemasanukm.com/news/6/Kemasan-yang-Unik-dan-Kreatif-Gandakan-Keuntungan

Dipublikasi di Artikel | Tag , , | 2 Komentar

Jalan-jalan ke Bandung Jajan Jajanan Khas Bandung

Walaupun pernah tinggal dan menetap di Bandung selama 16 tahun, rasanya kerinduan jalan-jalan ke Bandung sering mengusik hati. Apalagi setelah si Bungsu kuliah di UPI Bandung, semakin sering jalan-jalan ke Kota Kembang tersebut.

Barangkali yang paling menyenangkan apabila ada sempat waktu jajan di tempat Jajanan Khas Bandung yang banyak tersebar di Kota Priangan tersebut. Beberapa jenis jajanan khas Bandung masih sangat “friendly” dengan lidahku ini, seperti Siomay, Colenak, Peuyeum dan Sorabi Bandung.

siomay

siomay

SIOMAY - Makanan khas Bandung ini terbuat dari tepung aci dan ikan,diberi bumbu kemudian dikukus, dan disajikan atau dimakan dengan telur rebus, kol, tahu, kentang dan dicampur dengan saus kacang, yang sudah dibumbui, hampir sama dengan bumbu saos kacang batagor. Siomay ini terdapat di beberapa rumah makan, warung yang ada di kota Bandung.

 

 

Colenak

Colenak

COLENAK – Orang Bandung memang pandai menciptakan makanan yang unik dengan

nama yang unik pula. Seperti halnya dengan makanan yang terbuat dari peuyeum (tape singkong) yang dibakar di atas arang yang kemudian ditaburi dengan saus gula merah dan kelapa parut yang diberi nama colenak, singkatan dari ‘dicocol enak’.

 

Peyeum Bandung

Peyeum Bandung

Peuyeum atau tape singkong adalah makanan khas Kota Bandung yang memiliki rasa manis, sedikit asam dan beraroma alkohol. Peuyeum ini dibuat dari singkong yang difermentasikan. Orang sering mengatakan peuyeum sama dengan tape singkong, tetapi sebenarnya terdapat perbedaan yaitu peuyeum lebih kering daripada tape.
Hal ini dikarenakan perbedaan dalam proses pembuatan dan penyimpanannya. Peuyeum dengan kualitas bagus yaitu peuyeum yang baunya dan rasanya enak, manis dan asam. Peuyeum dapat ditemukan di toko oleh-oleh khas Bandung seperti di sekitar Terminal Leuwi Panjang, di Pasar Baru, dan di pasar-pasar tradisional.

batagor

Batagor

Batagor adalah singkatan dari bakso tahu goreng yaitu tahu yang diisi dengan campuran aci  (tepung tapioka) dan daging ikan tengiri. Teman makan batagor adalah siomay yang juga terbuat dari campuran aci (tepung tapioka) dan daging ikan tengiri, namun dibungkus dengan kulit pangsit. Keduanya dimakan dengan cara dicocol dengan saus kacang dan kecap. Makanan ini hampir dapat dijumpai di beberapa tempat yang menjual makanan khas Bandung. Batagor Kingsley dan batagor Riri adalah tempat yang wajib dikunjungi jika ingin mencicipi batagor khas Bandung.

Surabi

Surabi

Surabi atau serabi adalah makanan khas orang Sunda yang bentuknya seperti pancake namun lebih kecil dan tebal, terbuat dari tepung beras.Surabi dibakar dengan menggunakan alat tradisional yaitu tungku dan cetakan khusus dari tanah liat. Surabi ini memiliki banyak rasa, dengan rasa yang dianggap paling original khas Sunda yaitu surabi oncom. Sementara itu, di sekitar kampus Enhaii di Jalan Setiabudhi, Bandung terdapat sederetan warung yang menjajakan surabi.

Surabi

Surabi

Warung ini menawarkan surabi dengan berbagai rasa atau istilah dalam kamus kuliner modern ‘topping’.
Mulai dari oncom, keju, coklat, dan berbagai rasa buah yang menciptakan sensasi rasa manis, asin, pedas, dan lain-lain. Jajanan ini populer di semua lapisan masyarakat dan dapat ditemukan dengan mudah di pasar-pasar tradisional atau di tempat-tempat jajanan dengan harga yang cukup murah.

Nah itulah kira-kira Jajanan Khas Bandung yang sangat enak dan lezat, kadang-kadang kalau pulang ke Cirebon suka membawanya sebagai oleh-oleh. Barangkali masih banyak jajanan khas lainnya, nanti bisa ditambahkan lagi. Selamat mencoba.

Sumber dari http://jomjalan.asia/news/35-planning-trip/73-jajanan-khas-bandung.html

Dipublikasi di Artikel | Tag | Tinggalkan komentar

Jajan Pasar Blauran

gerebegPernah melihat gunungan jajan pasar? Datanglah di halaman Keraton Surakarta pada Hari Raya Idul Adha. Pada hari besar itu, Kasunanan Surakarta selalu menggelar acara Gerebeg Besar yang menghadirkan dua gunungan jajan pasar.

Prosesi Gerebeg Besar dimulai setelah sholat Ied berakhir. Serombongan prajurit Keraton Solo dan para abdi dalem berjalan beriringan dari kompleks keraton menuju tempat upacara pelepasan.

Setelah iring-iringan itu, dua gunungan setinggi 1,5 meter menyusul di belakang iringan. Gunungan itu memiliki julukan berbeda. Yang berbentuk kembang disebut gunung estri (perempuan), berupa susunan dari rengginang dan jajan pasar, serta gunungan jaler (laki-laki) berbentuk yoni tersusun dari berbagai hasil bumi dan sayur-sayuran. Kedua gunungan itu diarak mengelilingi keraton.

Gunungan jaler diarak dari kompleks keraton menuju Masjid Agung dengan iringan musik keprajuritan dan gamelan. Setelah didoakan, gunungan dibagikan kepada masyarakat yang hadir. Namun jangan kaget bila masyarakat yang menghadiri upacara itu langsung berebut dengan antusias.

Telah menjadi kebiasaan, masyarakat dan pengunjung termasuk wisatawan memperebutkan gunungan tersebut hingga ludes. Mereka tidak memakan jajanan dan sajen itu, mereka akan menyimpan di rumah sebagai benda penolak balak. Gunungan satunya, gunungan estri, dibawa kembali ke Kori Kamandungan di bagian depan kompleks keraton dan menjadi rebutan di sana. (hn)

http://jajanpasarblauran.wordpress.com/2008/01/25/jajan-pasar-di-gerebeg-besar-2/

Dipublikasi di Artikel | Tag | Tinggalkan komentar

Kiat Membangun Brand Yang Kuat Ala Hermawan Kartajaya

markplusHermawan Kartajaya kembali membagi ide segar seputar dunia marketing. Inspirasi dari suhu marketing modern Philip Kotler itu dibagikan kepada peserta seminar MarkPlus di Surabaya, Senin (17/9) malam:

“Adakah perusahaan, yang ketika dia tutup dan produknya sudah tidak keluar, konsumen akan sedih?” pancing Hermawan Kartajaya memancing antusiasme peserta seminar.

Susah kan menyebutkan produk tersebut? Jika Anda menemukan jawaban atas pancingan Hermawan tadi, pastilah produk tersebut memiliki brand (merek) yang sangat kuat. Menciptakannya, tentu saja tidak cukup hanya dengan beriklan. Baik itu di media cetak (printing ad), iklan luar ruang (outdoor), maupun iklan-iklan model baru.

Hermawan yang juga founder dan President MarkPlus itu mengatakan untuk membangun brand yang kuat perusahaan tidak boleh hanya mengandalkan iklan. Perusahaan harus melakukan sesuatu yang mengena di benak konsumen, tidak sekadar menjual tetapi memiliki implikasi jangka panjang.

Menurut Asian Marketing Guru itu, perusahaan yang memiliki reputasi bagus tidak lagi memerlukan promosi, marketing, public relation, atau corporate social responsibility (CSR) karena hal itu telah terjadi dengan sendirinya.

“Cara baru membangun brand adalah dengan membentuk bisnis yang dicintai oleh karyawan perusahaan, masyarakat, dan investor,” ungkapnya.

Menurut Hermawan hal tersebut terkait reputasi. Bagi customer, reputasi yang baik akan menentukan keputusan membeli. Bagi karyawan perusahaan, nama baik akan memicu mereka untuk loyal dan berkomitmen. Reputasi juga bisa mengundang investor untuk menanamkan modalnya. Selain itu, nama baik juga akan menarik media untuk terus mengikuti perkembangan.

“Reputasi yang baik akan mendorong analis keuangan memberikan peringkat yang tinggi,” ujarnya.

Beberapa brand yang mampu meraih itu semua adalah The Body Shop dan produk Apple seperti IPod dan ITunes. The Body Shop, merek produk perawatan tubuh itu dikenal sebagai produk yang ramah lingkungan sehingga bisa mengambil simpati konsumen di seluruh dunia. Selain itu, Anita Roddick, pencipta merek tersebut, dikenal sebagai aktivis lingkungan hidup dan bisnisnya juga sangat concern terhadap perekonomian dunia ketiga.

Sedangkan produk-produk Apple dikenal memiliki reputasi tersendiri dibanding produk elektronik sejenis. Bahkan saat ini, perusahaan yang didirikan oleh Steve Jobs itu telah menjual jutaan keping produknya dan menciptakan konsumen yang loyal.

Dalam membangun brand yang kuat, kata Hermawan, harus dimulai dengan menyinergikan pikiran, hati, dan jiwa, yang lantas diimplikasikan kepada model bisnis dengan menciptakan misi, visi, dan nilai. Misinya, perusahaan bisa memberi manfaat kepada manusia dan lingkungan. Visinya, perusahaan bisa menjadi yang terdepan dalam menciptakan inovasi untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dan nilainya adalah menciptakan nilai keekonomian, lingkungan yang sehat, dan mendukung perkembangan sosial.

Menurutnya, perusahaan perlu melakukan usaha-usaha untuk mempertahankan diri bagi orang-orang yang mencintai perusahaan. “Akhirnya, perusahaan akan mampu menciptakan brand-nya akan mempunyai brand integrity, brand identity, dan brand image,” katanya.(alina mustaidah)

sumber : JawaPos (19/09/07)

Diambil dari http://bisnisukm.com/kiat-membangun-brand-yang-kuat-ala-hermawan-kartajaya.html

Dipublikasi di Artikel | Tag , | Tinggalkan komentar

Peluang Bisnis Keripik Ubi Jalar

Bpk Presiden dan Ubi-Gambar Google

Bpk Presiden dan Ubi-Gambar Google


Ubi jalar merupakan bahan makanan yang populer di tengah masyarakat kita, aneka macam makanan dibuat dari bahan yang satu ini, misalnya saja aneka kue hingga Mie Ubi Jalar.  Makanan yang tidak kalah menarik dari ubi jalar adalah keripik ubi jalar. Makanan  ringan keripik singkong mungkin sudah sering kita jumpai, tetapi keripik ubi jalar merupakan makanan yang belum begitu banyak. Meski demikian bukan berarti keripik ubi jalar memiliki cita rasa yang tidak kalah dengan keipik lainnya. Kondisi ini membuat peluang usaha pembuatan dan penjualan keripik ubi jalar terbuka lebar. Dengan berbagai macam variasi model dan rasa keripik ubi jalar dan kemasan yang menarik, keripik ubi jalar dapat menembus pasar yang lebih luas. Dengan demikian peluang bisnis keripik ubi jalar dapat menjadi alternatif bagi siapa saja yang berminat. Bisnis keripik ubi jalar  bisa dimulai dengan proses pembuatan ( memasak ), proses pengemasan dan proses pemasaran.

Kripik Ubi-Google

Kripik Ubi-Google

Biasanya keripik ubi jalar diproduksi oleh industri kecil rumah tangga, sehinga penetrasi pasar produk ini masih sangat terbatas. Akan tetapi dengan pembuatan dan pengemasan yang lebih baik bisnis usaha keripik ubi jalar bisa mendatangkan keuntungan yang lumayan.
Proses membuat keripik Ubi Jalar

Ubi Jalar-Gambar Google

Ubi Jalar-Gambar Google

Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat keripik ubi jalar adalah sebagai berikut:
1.Ubi jalar.
2. Larutan kapur sirih.
3. Larutan natrium bisulfit 500 ppm.
4. Minyak goreng.

Peralatan yang dibutuhkan untuk membuat keripik ubi jalar adalah sebagai berikut:
1. Pengiris umbi.
2. Pisau dan talenan
3. Kuali
4. Baskom atau ember.
5. Keranjang peniris.

Cara pembuatan Keripik Ubi Jalar
1. Pengupasan dan pengirisan. Umbi dicuci, kemudian dikupas. Umbi yang telah dikupas, tapi tidak langsung diproses lebih lanjut harus direndam di dalam air. Setelah itu umbi diiris tipis-tipis.

2. Perendaman di dalam larutan natrium bisulfit dan kapur. Irisan umbi direndam di dalam larutan natrium bisulfit 500 ppm selama 60 menit.Kemudian irisan umbi diangkat, dan direndamkan ke larutan kapur sirih 2% selama 30 menit. Setelah itu, irisan umbi ditiriskan.

3. Pemasakan ringan. Air dipanaskan sampai suhu 90°C. Ke dalam dimasukkan garam (10 gram garam untuk 1 liter air). Kemudian iris umbi yang telah ditiriskan dimasukkan ke dalam air tersebut, dan diaduk pelanpelan. Tidak lama kemudian (1-2 menit), irisan umbi segera diangkat dan ditiriskan.

4. Pengeringan. Irisan umbi dijemur, atau dikeringkan dengan alat pengering sampai cukup kering dengan tanda mudahnya umbi patah jika diremas.

5. Penggorengan. Irisan umbi digoreng di dalam minyak panas (170°C) sampai garing.

6. Penggulaan. Untuk mendapatkan keripik manis, lakukan penggorengan diulang. Kedalam minyak agak panas (suhu 110°C) dimasukkan gula halus (50 gram gula untuk setiap 1 liter minyak), da diaduk agar gula mencair. Setelah itu, keripik yang telah garing dimasukkan ke dalam minyak, diaduk dengan pelan, dan segera diangkat untuk ditiriskan dan didinginkan.

7. Pengemasan. Keripik matang harus disimpan pada wadah tertutup. Keripik dapat dikemas di dalam kantong plastik, atau kotak kaleng. Kemasan harus ditutup rapat sehingga tidak dapat dimasuki oleh uap air dan udara luar.

Keripik ubi jalar yang sudah dikemas dengan kemasan yang baik siap dipasarkan. Peluang bisnis terbuka. (Galeriukm)

Sumber : Teknologi Tepat Guna Agroindustri Kecil Sumatera Barat, Hasbullah,Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri Sumatera Barat

Diambil dari situs http://galeriukm.web.id/peluang-usaha/peluang-bisnis-keripik-ubi-jalar

Dipublikasi di Artikel | Tag | Tinggalkan komentar

Pelatihan Makanan Olahan Hasil Laut

A. Pendahuluan

nelayan dan hasil tangkapannya-Google

nelayan dan hasil tangkapannya-Google

Potensi Hasil Laut di Wilayah Cirebon cukup melimpah, walaupun pada saat ini Musim hujan dan angin yang sedikitnya berpengaruh pada hasil tangkapan nelayan. Namun pada musim “melaut” hasil tangkapan nelayan kita sangat berlimpah, sehingga pasokan bahan baku ikan dipastikan sangat mencukupi untukkegiatan usaha Makanan Olahan Hasil Laut.

Hasil Laut di Cirebon diantaranya Ikan Kakap, Ikan Pari, Ikan Kembung , Ikan Bilis dan Udang, Cumi dan Kepiting. Bahkan kepada jenis lainnya seperti kerang puti dan kerang hijau (Ijoan) serta

perahu nelayan-Google

perahu nelayan-Google

ikan teri yang merupakan potensi bahan baku Makanan Olahan Hasil Laut yang cukup melimpah. Apalagi ditunjang dengan pasokan dari Wilayah III Cirebon lainnya seperti Indramayu dan Kabupaten Cirebon. Maka tepatlah jika di Kota Cirebon dijadikan pusat penjualan aneka Makanan Olahan hasil Laut yang cukup dikenal dengan “Oleh-oleh Cirebon” nya.

 

Hasil Laut-Jambal-Google

Hasil Laut-Jambal-Google

Masyarakat Pesisisr Kota Cirebon di Wilayah Kecamatan Lemahwungkuk dan Kejaksan, banyak dijumpai para pengusaha ikan asin yang berasal dari keluarga nelayan Cirebon. Pengolahan Ikan Asin dan Terasi cukup lama dilakukan secara  tradisonal yang memasok kebutuhan ikan asin untuk daerah Jawa Barat dan sekitarnya, gudang-gudang ikan asin banyak tersebar di Kota Cirebon (walaupun kenyataanya dimiliki warga keturunan). Toko Oleh-oleh

Pengusaha Oleh2 Cirebon-Pangestu-Google

Pengusaha Oleh2 Cirebon-Pangestu-Google

Cirebon pun banyak dijumpai di Jalan Siliwangi, Jalan Sukalila dan Jalan lainnya di Kota Cirebon. Hal ini menujukkan betapa besarnya potensi Makanan Olahan Hasil Laut di Kota Cirebon, tentu memerlukan pengembangan usaha yang mampu mengangkat pendapatan masyarakat Kota Cirebon dan sekitarnya.

 

B. Jenis dan Kegiatan.

Jenis dan Kegiatan yang akan dilakukan adalah Pelatihan Makanan Olahan Hasil Laut bagi masyarakat pesisir Kecamatan Lemahwungkuk, berupa pemberian materi pelatihan untuk 30 orang peserta serta bantuan peralatan dan bahan produksi. Kegiatan ini mengacu kepada peningkatan kemampuan masyarakat pesisir dalam pengolahan hasil laut. Jumlah hari pelaksanaan pelatihan tidak kurang dari 5 (lima) hari yang didalamnya terdiri dari pemberian materi selama 1 (satu) hari, praktek 2 (dua) hari dan sisanya akan dipergunakan untuk Study Banding ke Perusahaan Pengolahan Hasil Laut.

C. Maksud dan Tujuan Pelatihan.

Maksud dilaksanakan Pelatihan Makanan Olahan Hasil Laut adalah untuk memanfaatkan dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCT) Kota Cirebon dengan mengangkat masyarakat pesisir Kecamatan Lemahwungkuk sebagai wilayah Industri Hasil Tembakau (IHT) dalam peningkatan kemampuan Pengolahan Hasil Laut.

Tujuan pelasanaan kegiatan adalah menciptakan embrio baru usaha kecil rumahan (Home industri) Pengolahan Makanan Hasil Laut agar mampu memberikan keragaman produk olahan hasil laut yang sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir tersebut.

D. Tempat dan Waktu Kegiatan

Tempat di Wilayah Kecamatan Lemahwungkuk Kota Cirebon yang akan di pusatkan di salah satu Kelurahan di kecamatan tersebut yang bekerjasama pihak Pemerintah Kecamatan Lemahwungkuk serta Instansi terkait lainnya. Sementara Waktu Kegiatan direncanakan antara Triwulan II dan III Tahun 2011, tepatnya masih disesuaikan dengan pengadaan mesin dan peralatan yang dipastikan memerlukan cukup waktu.

E. Sasaran Kegiatan Pelatihan

Seperti yang diungkapkan dimuka bahwa sasaran kegiatan Pelatihan Pengolahan Makanan Hasil Laut diprioritaskan di Wilayah Lingkungan IHT yakni masayarakat Kecamatan Lemahwungkuk. Jumlah Peserta akan dibatasi sebanyak 20-30 orang peserta dengan hasil rujukan Tokoh-tokoh masyarakat setempat serta Pemerintah Kecamatan Lemahwungkuk, akan lebih diutamakan bagi masyarakat kecil yang mempunyai Motivasi Usaha Pengolahan Hasil Laut.

F. Materi Pelatihan

Materi Pelatihan dalam Pelatihan Makanan Olahan Hasil Laut diantaranya adalah :

  • Manajemen Usaha
  • Manajemen Produksi
  • Manajemen Pemasaran
  • Praktek Pelatihan
  • Study Banding

Adapun Bantuan yang akan diusahakan adalah sebagai berikut :

  • Mesin Produksi (akan diberikan per kelompok peserta, paling banyak 2 kelompok)
  • Peralatan Produksi Penunjang
  • Bahan Baku Produksi (untuk pasca Pelatihan, jumlah dan jenis dibatasi)

G. Study Banding

Setelah Pelatihan dan Praktek berakhir akan dilanjutkan dengan Study Banding atau kunjungan ke Beberapa Perusahaan Pengolahan Hasil Laut (tempat dan waktu ditentukan kemudian). Hal ini untuk memberikan motivasi bagi masing-masing peserta agar menumbuhkan semangat berwirausaha dan menciptakan lahan usaha rumahan.

H. Kendala dan Permasalahan

Masih terbatasnya usaha rumahan yang mengolah Makanan Olahan Hasil Laut yang berorientasi pasar, sementara bahan baku produksi cukup melimpah serta terbatasnya wawasan dan pengetahuan tentang Pengolahan Hasil Laut dilingkungan masyarakat pesisir Cirebon.

Upaya Pelatihan  Makanan Olahan Hasil Laut merupakan jawaban yang dianggap memadai dalam mengantisipasi kendala dan permasalahan yang ada. Walaupun barangkali bukan hal yang baru tentang makanan olahan hasil laut, jika dipadukan dengan teknologi produksi yang trend saat ini, bukan mustahil Pelatihan Makanan Olahan Hasil Laut akan menghasilkan embrio-embrio pengusaha kecil yang potensial dimasa mendatang.

I. Kesimpulan dan saran

Kesimpulannya bahwa Pelatihan Makanan Olahan Laut bagi masyarakat sekitar Industri Hasil Tembakau (IHT) perlu mendapatkan priorotas utama dan bantuan mesin serta peralatan produksi akan sangat membantu dalam pengembangan usaha Makanan Olahan Hasil Laut dalam lingkup Kelompok Usaha Masyarakat.

Saran agar seluruh lapisan masyarakat, tokoh-tokoh masyarakat dan pemerhati pemberdayaan masyarakat ikut mendukung kegiatan ini, agar didapatkan hasil pelatihan yang maksimal. Disamping itu diperlukan sebuat tempat (outlet) untuk penjualan produk mereka serta promosi dalam berbagai event kegiatan.

J. Penutup.

CPC-Indag

CPC-Indag

Akhirul kata, semoga rencana pelaksanaan kegiatan Pelatihan Makanan Olahan Hasil Laut di wilayah IHT Kecamatan Lemahwungkuk yang terdiri dari masyarakat pesisir , dapat berjalan dengan baik dan lancar. Kita tunggu saja waktunya, mudah-mudahan tidak terlalu lama lagi akan terealisasi. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan serta kesuksesan pelaksanaan kegiatan dimaksud. Amien.

Penulis : Halimi,SE,MM.

Dipublikasi di Artikel | Tag , | Tinggalkan komentar

Makanan Tradisional Yang Harus Dilestarikan

Festival Makanan Et Jabar 2010-arsip Indag

Festival Makanan Et Jabar 2010-arsip Indag

Seperti kita ketahui pada umumnya, di setiap daerah di Indonesia memiliki makanan khasnya masing masing, begitupun dengan Jawa Barat  pada khususnya yang kaya akan makanan tradisional. Sebut  saja Makanan Khas Priangan seperti Nasi timbel komplit, dari lauk pauknya , sayur dan lalaban. Kue tradisonal Khas Priangan seperti dadar gulung, serabi Bandung, Siomay dan lain-lain. Semenetara daerah Kabupaten Kota di Jawa Barat lainnya pun tidak kalah “semaraknya” , Contoh Cirebon terkenal dengan Nasi Jamblang,  Nasi lengko, Empal Gentong dan Sate Kalong serta Kue Tradisional Cirebon seperti  Kue Tapel dan Jajanan Pasar lainnya.

Jika kita bicara Makanan Tradisional se Indonesia, rasanya takkan pernah habis saking banayak ragam jenisnya.Sebut saja  carabikan, risoles, nagasari, ketan bumbu, dadar gulung, kue talam, onde-onde, sayur asam, gudeg, sambal goring, rendang dan lain lain.

Dan Ingat kue-kue dan aneka masakan tradisional Indonesia kaya akan rasa dan rempah, dan karena taste-nya yang begitu kaya inilah yang membuat banyak turis asing kepincut. Ya, betul sekali, makanan tradisional adalah salah satu asset budaya dan daya tarik wisata yang harus dikembangkan dan dipertahankan keberadaannya.

Bagaimana cara melestarikan dan mempromosikan Makanan Tradisonal Indonesia ?

Festival Makanan Etnik Jabar 2010-Arsip Indag
Festival Makanan Etnik Jabar 2010-Arsip Indag

Banyak cara yang bisa ditempuh sebenarnya, tetapi yang sering kita lihat adalah dengan mengadakan kegiatan Bazaar, Pasar Rakyat dan Festival Makanan. Untuk memperkenalkan Makanan Tradisonal Indonesia yang paling rajin diantaranya salah satu Perusahaan Kecap terkenal dengan Festival Makanan Tradisonalnya. Kemudian di Jawa Barat sendiri , Pemerintah Propinsi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangannya mempunyai kegiatan rutin setiap tahunnya dengan Festival Keanekaragaman Makanan Etnik Jawa Barat yang diikuti oleh seluruh Kabupaten dan Kota se Jawa Barat.

Festival Makanan Etnik Cirebon 2010-Arsip Indag

Festival Makanan Etnik Cirebon 2010-Arsip Indag

Nah bagaimana dengan Kota Cirebon sendiri ? memang baru pertama kali tahun 2010 kemarin dilaksanakan “Festival Makanan Etnik Cirebon” yang diikuti oleh berbagai Insatansi, Kecamatan dan Kelurahan, Hotel dan Asosiasi Catering se Kota Cirebon. Pemenangnya dibawa serta mengikuti Festival Makanan Etnik Tingkat Jawa Barat, walaupun belum mendapatkan Predikat Juara.

Rencananya tahun 2011 juga akan diadakan kembali Festival Makanan Etnik Cirebon tersebut, masih dalam perencanaan karena harus mengacu kepada rencana ditingkat Jawa Barat. Seperti tahun kemarin mengambil tema ” Makanan Berbahan Baku Pisang” , nah untuk tahun ini masih belum jelas informasinya. Jadi ya kita kita tunggu saja siapa tahu nanti mengambil tema ” Makanan Berbahan Baku Jagung” atau lainnya.

CPC-Arsip Indag

CPC-Arsip Indag

Selain Festival Makanan Etnik seperti tersebut diatas, sebenarnya bisa saja memunculkan Festival Jajanan Pasar dan Makanan Tradisonal Cirebon. Seluruh potensi Makanan Khas Cirebon diyakini mempunyai daya tarik tersendiri, apalagi dikemas disebuah tempat yang ramai pengunjung dan  menggabungkannya dengan Pageralaran Seni Budaya Tradisonal Cirebon. Waah pasti keren bener tuh…….hayooo siapa mau memulai melakukan kegiatan tersebut ?

Kita berharap agar banyak yang berkeinginan menampilkan kegiatan dengan tujuan melestarikan dan memperkenalkan Makanan Tradisonal Indonesia, termasuk di Cirebon. Sehingga kedepan semakin banyak gelar-gelar produk atau festival dan bazaar yang menyentuh langsung ke upaya pelestarian dan pengembangan Makanan Tradisonal kita. Semoga.

Penulis : Halimi,SE,MM.

 

Dipublikasi di Artikel | Tag , | Tinggalkan komentar

WASPADAI PROMOSI MAKANAN OLAHAN

Makanan Plahan - Gambar Google

Makanan Plahan - Gambar Google

Di zaman modern ini, kesibukan manusia seakan tiada habis-habisnya. Kegiatan banyak terpusat pada upaya mencari nafkah dan aktualisasi diri. Kegiatan memasak dianggap tidak terlalu penting dan cenderung dikesampingkan. Orang lebih memilih yang praktis saja.

Maka, tak heran promosi makanan olahan siap saji banyak bertebaran di media massa cetak maupun elektronik. Masalah kepraktisan menjadi salah satu hal yang paling ditonjolkan dalam iklan-iklan makanan olahan tersebut.

Di pasaran, makanan olahan tak terhitung banyaknya. Pilihan yang sangat beragam membuat konsumen jadi bingung menjatuhkan pilihan. Makanan olahan tersebut ada yang dikemas dalam kaleng, misalnya ikan sarden dan daging kornet. Ada juga yang berkemasan plastik dan tergolong makanan olahan beku, seperti nugget, sosis, bakso, dan tempura.

Sebagai konsumen yang cerdas, sebaiknya Anda jangan mudah terpengaruh oleh promosi makanan olahan yang mengklaim produk mereka sebagai produk sehat bergizi. Biar bagaimanapun, makanan alami jauh lebih baik. Ingat, kebanyakan makanan olahan mengandung banyak zat kimia seperti pengawet, pewarna, dan penyedap rasa yang dapat mengganggu kesehatan jika dikonsumsi berlebihan.

Namun, jika Anda terpaksa harus mengonsumsi makanan olahan, berikut hal-hal yang harus diperhatikan:


Harga

Jangan terkecoh dengan promosi makanan olahan yang menonjolkan harga murah. Jika harga terlalu murah, Anda justru harus curiga, karena bisa jadi si produsen menambahkan zat-zat berbahaya ke dalam makanan olahan tersebut. Namun, bukan berarti makanan olahan berharga mahal sudah pasti aman, lho! Yang penting, perhatikan label kemasannya!


Label Kemasan

Perhatikan informasi pada label kemasan produk. Pastikan ada informasi lengkap yang mencakup nama produk, daftar bahan yang digunakan, berat bersih, nama dan alamat produsen, serta tanggal kadaluwarsa.

Pilihlah produk yang yang sudah terdaftar di Departemen Kesehatan. Hindari membeli produk yang tidak mencantumkan nama dan alamat produsen secara jelas. Ini untuk memudahkan Anda mengajukan komplain jika ada yang tidak beres dengan produk yang Anda beli.

Perhatikan pula bahan baku dan bahan tambahan yang dipergunakan. Apakah mengandung bahan-bahan yang membahayakan kesehatan?


Kemasan

Kemasan yang rusak (penyok, robek, berkarat, kusam) menandakan isinya pun bisa jadi telah terkontaminasi sehingga tidak layak untuk dikonsumsi. Ini sangat berbahaya, karena dapat menimbulkan keracunan yang mengancam keselamatan jiwa.

Untuk makanan olahan dalam kaleng, pilihlah kaleng yang baik, tidak penyok, tidak berkarat dan tidak cembung.


Perubahan Fisik

Jika kemasan masih dalam keadaan baik pun, Anda tetap harus waspada. Perhatikan jika ada bau tak sedap, perubahan warna, bentuk, dan rasanya. Itu juga merupakan tanda-tanda makanan olahan telah rusak dan tak layak dikonsumsi.


Kadaluwarsa

Pastikan makanan olahan yang hendak Anda beli mencantumkan tanggal kadaluwarsa yang jelas pada label kemasannya. Artinya, makanan olahan tersebut mempunyai batas akhir yang aman untuk dikonsumsi dengan jaminan mutu, tentu saja diiringi teknik penyimpanan yang tepat sesuai petunjuk dari produsen. Makanan olahan yang telah lewat tanggal kadaluwarsa berarti dianggap telah rusak. Jika dikonsumsi, dapat membahayakan kesehatan bahkan jiwa konsumen.

Demikian beberapa tips yang harus Anda perhatikan saat berbelanja makanan olahan. Ingat, segala sesuatu yang alami selalu lebih baik. Jadi, jangan mengonsumsi makanan olahan secara berlebihan, ya!

Sumber dari : http://www.anneahira.com/promosi-makanan.htm

Dipublikasi di Artikel | Tag , | Tinggalkan komentar